Pages

Selasa, 22 Januari 2013

Mantan Pelatih Deltras Ikut Kursus Kepelatihan di klub Malaysia Djohor Darul Takzim

Mantan pemain nasional era 80-an dan mantan Pelatih deltras, Muhammad Al Hadad mengatakan sistem pelatihan yang dilakukan klub Malaysia sudah semakin maju seiring majunya sepakbola di Eropa.
Hal ini diakui oleh Mamak, begitu panggilan akrab Muhammad Al Hadad saat ia mendapat undangan untuk mengikuti pelatihan selama satu setengah bulan di salah satu klub ternama Malaysia, Johor FC.
"Sistem kepelatihan di klub Johor FC yang saya ikuti itu semuanya sudah mengadopsi sistem kepelatihan klub-klub di Eropa," ungkap Mamak .
Menurutnya, sudah bukan jamannya lagi menerapkan latihan fisik kepada pemain yang hanya berlari-lari kecil memutari lapangan.
"Latihan fisik sudah ketinggalan jaman, saat ini berlatih fisik itu hanya dibutuhkan waktu yang singkat namun dengan intensitas yang tinggi, dan itu harus dilakukan oleh pemain dengan menggunakan bola, si pemain harus berlari mengelilingi lapangan dengan mendribel bola. Pokoknya setiap berlatih, pemain sedapat mungkin harus dengan bola," jelas mantan pelatih yang pernah dinobatkan sebagai pelatih terbaik Copa Indonesia tahun 2009 itu.
Selain itu, klub yang tengah melakukan latihan selalu memberlakukan latihan seperti layaknya saat bertanding. "Mereka berlatih mengibaratkan seperti bertanding, semua pemain dilibatkan, tentunya dengan permainan cepat sehingga pelatih bisa melihat keseriusan pemainnya, sehingga tidak pusing lagi jika ingin menurunkan pemain yang mana yang akan diturunkan dalam satu pertandingan di kompetisi yang tengah dilakoninya," papar Mamak.
Mamak mengakui dirinya mendapat ilmu kepelatihan yang sangat luar biasa selama berada di klub Johor FC itu. Seperti diketahui, kehadiran Mamak di Johor FC karena mendapat undangan dari pelatih Johor FC yang juga mantan rekan setimnya saat masih membela klub Niac Mitra Surabaya, Fandi Achmad.
"Fandi mengajak saya untuk mengikuti kursus singkat kepelatihan di Johor, dan apa yang lihat sangat luar biasa sekali bahwa kepelatihan saat ini sudah maju dari segi ilmu pengetahuan," ujar Mamak yang sudah mengantongi lisensi A dari AFC tersebut.
Dikatakannya, di Johor FC yang sudah mengadopsi kepelatihan Eropa itu, tidak dikenal dengan istilah pemain bintang. "Semua pemain sama-sama memiliki peluang menjadi pemain andalan, tentunya dengan berlatih keras. Pemain inti bisa tergantikan kedudukannya dengan pemain lain jika tidak bisa menjaga prestasinya," papar Mamak.
Kini, ilmu yang didapat Mamak dari kursus singkat kepelatihan di klub Johor FC ingin diterapkan di Indonesia. Sayang, sampai saat ini belum ada klub yang ingin menggunakan tenaga Mamak.
"Saya masih mencari klub di Indonesia, semoga saja ada salah satu klub di kompetisi yang ada di bawah naungan PSSI ingin menggunakan tenaga saya," tuturnya.