Pages

Senin, 03 Oktober 2011

Fakta !! 250 Juta Wanita & 98 Juta Pria Dewasa Masih Mengompol !! Apa Penyebabnya ??

Shear Blog - Mengompol biasa diidentikkan dengan anak kecil, tetapi faktanya ada sekitar 250 juta wanita dan 98 juta pria dewasa di dunia juga mengompol atau disebut dengan inkontinensia. Inkontinensia urine adalah pengeluaran urine di saat yang tidak diinginkan (mengompol) yang sulit dikendalikan dan sering mengakibatkan masalah gangguan kesehatan atau sosial.

Inkontinensia urine dapat terjadi pada pria dan wanita. Jumlah penderita pada wanita dua kali lebih sering dibandingkan pria. Menurut data dari International Continence Society, sekitar 250 juta orang wanita dan 98 juta pria di seluruh dunia menderita inkontinensia.

Berikut ini adalah beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan Inkontinensia urine yang menurut Dr. Harrina E. Rahardjo, SpU, PhD, dari Divisi Urologi RSCM-FKUI, dalam acara Media Edukasi 'Lakukan Tindakan Tepat untuk Mengatasi Inkontinensia Urine' di Hotel Akmani, Jakarta, Senin (3/10/2011)
  1. Proses penuaan (aging)
  2. Berkurangnya hormon estrogen (perubahan kadar hormon saat menopause)
  3. Kegemukan
  4. Riwayat persalinan dengan cara normal dengan berat badan lahir bayi yang besar
  5. Operasi-operasi daerah panggul seperti pengangkatan rahim
  6. Kelainan atau penyakit neurologis seperti stroke dan tumor otak
  7. Diabetes Mellitus
  8. Riwayat konsumsi obat-obatan yang menggangu fungsi otot-otot saluran kemih, trauma tulang belakang dan operasi tulang belakang.
Faktor-faktor di atas paling banyak terjadi pada kaum wanita, seperti proses persalinan dan penurunan hormon estrogen yang berfungsi menjamin integritas anatomi saluran kemih. Meski tidak mengancam nyawa, inkontinensia alias mengompol pada orang dewasa dapat menyebabkan beban bagi penderitanya baik dari psikologis maupun sosial seperti nyeri, malu, depresi dan rasa cemas.

Ada 3 kategori untuk terapi yang bisa dilakukan untuk mengobati inkontinensia pada orang dewasa, yaitu:

Terapi non farmakologis (terapi perilaku)
Terapi ini dikenal sebagai terapi perilaku yang diajarkan kepada pasien untuk memodifikasi perilaku kesehariannya terhadap kontrol kandung kemih, antara lain, Pengaturan diet dan menghindari makanan atau minuman yang mempengaruhi pola berkemih (seperti kafein dan alkohol), Program latihan berkemih yaitu latihan penguatan otot dasar panggul atau Kegel

Terapi farmalogis
Terapi farmakologis merupakan terapi obat yang dapat diberikan sesuai dengan tipe inkontinensia yang dialami.

Terapi pembedahan atau operasi
Terapi ini dapat dipertimbangkan bila terapi perilaku dan farmakologis tidak berhasil.

Sumber : DetikHealth