Pages

Minggu, 03 April 2011

Mantab, Masturbasi Bisa Membantu Penderita Gangguan Tidur

Shear Blog - Masturbasi biasanya sering dilakukan pria untuk melampiaskan keinginan seksualnya. Tapi bagi orang yang mengalami gangguan tidur sindrom kaki gelisah, masturbasi bisa menjadi obat mujarab untuk penyakitnya. Sindrom kaki gelisah atau restless leg syndrome (RLS) menyebabkan kaki tidak mau berhenti bergerak meski sedang tidur. Gerakannya bermacam-macam, mulai dari menendang-nendang hingga terus menerus berganti posisi dari menyilang ke kiri pindah ke kanan sepanjang malam.

Selain itu, penderita sindrom gangguan tidur ini biasanya juga merasakan sensasi tidak menyenangkan pada tungkai bawah seperti kesemutan, sakit dan gatal. Sindrom ini biasanya muncul saat tidur memasuki fase Rapid Eye Movement (REM) sehingga menyebabkan penderitanya tidak bisa tidur nyenyak. Sekalipun tidak disadari, tubuh membutuhkan energi yang tidak sedikit untuk menggerakkan kaki sehingga wajar jika merasakan letih saat bangun tidur.

Penyebab pasti RSL belum diketahui, tetapi otopsi dan pencitraan otak menemukan bahwa ketidakseimbangan hormon dopamin bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya. Meskipun obat-obatan yang meningkatkan dopamin dapat mengurangi RLS ketika diminum pada sebelum waktu tidur, tapi beberapa orang dengan kondisi RLS baru bisa menemukan bantuan sepenuhnya setelah masturbasi atau melakukan hubungan seks.

Luis Marin dan rekan-rekannya di Federal University of Sao Paulo, Brasil, berspekulasi bahwa pelepasan dopamin (hormon yang membuat orang merasa bahagia) yang terkait dengan orgasme mungkin memainkan peran dalam pengentasan gejala RLS, seperti dilansir Medindia, Sabtu (2/4/2011). Menurutnya, orgasme merupakan salah satu cara untuk melepaskan banyak hormon dopamin ke dalam tubuh.

Peningkatan dopamin sementara dapat bertindak sama dengan obat yang menyerupai hormon, yaitu memberikan bantuan untuk mengurangi gejala kaki gelisah sehingga membuat penderita RLS dapat tidur lebih nyenyak. Hasil temuan ini telah dilaporkan pada Sleep Science.

Sumber : detikHealth