Pages

Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2012

10 Penemuan Paling Populer di Tahun 2012


Berikut ini adalah 10 penemuan paling populer sepanjang tahun 2012 :

Sembilan Sistem Planet
Sistem ini berada pada bintang seperti Matahari di konstalasi selatan Hydrus yang diberi nama HD 10180 dan diperkirakan ada 9 planet yang mengorbit pada bintang tersebut, hampir sama seperti sistem tata surya kita.

Partikel Tuhan
Tim yang bekerja di Large Hadron Collider (LHC) melaporkan bahwa mereka 99 persen yakin telah menemukan Higgs Boson, atau partikel Tuhan. Partikel yang telah lama dicari ini mampu menyelesaikan model standar fisika dengan menjelaskan mengapa benda-benda di alam semesta memiliki massa.

Planet Baru dalam Tata Surya
Sebuah planet yang belum ditemukan mungkin mengorbit di pinggiran gelap tata surya menurut penelitian yang dilakukan pada bulan Mei 2012. Namun planet ini tak terlalu terlihat sehingga kehadirannya mengganggu orbit, hal tersebut diungkapkan oleh Rodney Gomes, seorang astronom di Observatorium Nasional Brasil di Rio de Janeiro.

Ada Molekul Gula di Luar Angkasa
Molekul gula sederhana ditemukan mengambang di sekitar bintang. Ini menunjukkan kemungkinan adanya kehidupan di planet lain. Penemuan bulan Agustus 2012 ini menyiratkan bahwa kehidupan dapat dikembangkan di tempat lain. Ini juga menunjukkan bahwa karbon yang kaya akan molekul membangun blok kehidupan yang mampu hadir sebelum planet mulai terbentuk.

Buaya Raksasa Memecahkan Rekor Dunia
Lolong, buaya air asin terbesar di dunia dengan panjang 6,17 meter dan berat 1.075 kilogram. Buaya raksasa ini mematahkan rekor Guinness World of Records sebelumnya yang "hanya" memiliki panjang 5,48 meter. Buaya ini kemudian dinobatkan sebagai buaya air asin terbesar yang pernah ditemukan.

Kuil Suku Maya
Kuil Matahari (Temple of the Night Sun) begitulah nama kuil yang ditemukan di Guatemala. Kuil dengan sembulan pancaran sinar merah dihiasi ukiran khas yang menggambarkan wajah raksasa dan dipercaya sebagai Dewa Matahari suku Maya. Kuil ini memberikan titik terang bagi para arkeolog untuk mengungkap perkembangan suku Maya dan praktek ritual yang mereka lakukan. 

Lukisan Dinding Suku Maya
Arkeolog menemukan mural atau lukisan dinding yang menghiasi rumah Maya kuno. Lukisan pada dinding ini selain menggambarkan adegan dari para raja beserta pengiringnya. Juga penuh kalkulasi perhitungan yang membantu para ahli taurat kuno untuk menghitung waktu. Hal ini bertentangan dengan pendapat yang menyatakan bahwa Maya memperkirakan dunia berakhir pada akhir 2012. Sementara tanda-tanda pada dinding mengungkapan tanggal-tanggal selama ribuan tahun ke depan.

Amfibi Misterius
Hewan ini tak memiliki kaki, namun bukan ular ataupun cacing. Meski hewan ini menggali tanah seperti cacing, termasuk dalam spesies amfibi. Hewan ini merupakan satu dari enam spesies misterius yang biasa disebut caecilians.  

Monyet Malam
erupakan salah satu dari delapan mamalia baru yang ditemukan selama ekspedisi di Tabaconas Namballe National Sanctuary. Jenis monyet ini sangat jarang terlihat dan diteliti. Bahkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkannya dalam kategori spesies terancam punah. Monyet malam ditemukan di dekat perbatasan Ekuador.

Kawanan Kepiting di Antartika
Spesies baru yang belum memiliiki nama dari kawanan kepiting Yeti ditemukan di dekat lokasi yang panas kaya akan mineral hidrotermal di lautan Antratika. Ilmuwan menyatakan bahwa ini merupakan penemuan baru dari "dunia yang hilang" di kawasan laut dalam.

Sumber : NGI (National Geographic Indonesia)

Selasa, 04 Desember 2012

Sinyal Baru, Mars Mampu Mendukung Kehidupan ?

Curiosity
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), dalam acara American Geophysical Union mengumumkan bahwa Robot Curiosity miliknya  menemukan sinyal baru bahwa Mars mampu mendukung kehidupan. Curiosity berhasil menemukan senyawa organik di Mars. Senyawa yang ditemukan pada debu Mars dengan instrumen Sample Analysis at Mars (SAM) adalah  klorin, sulfur, air, serta senyawa organik yang tersusun atas karbon dan merupakan bagian dari makhluk hidup.

Meski demikian, pihak NASA masih perlu melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah senyawa organik tersebut benar-benar berasal dari Mars. Karena ada kemungkinan senyawa tersebut hasil kontaminasi dari Bumi yang dibawa Robot Curiosity saat mendarat di Mars.

Bahan yang dianalisis oleh SAM bernama perklorat, senyawa reaktif yang terdiri atas oksigen dan klorin. Dalam instrumen SAM, senyawa itu dioven sehingga  susunan bahan kimianya bisa terdeteksi. Setelah dipanaskan, perklorat membentuk metana yang terklorinasi. Metana mengandung karbon, merupakan senyawa organik. Klorin mungkin asli berasal dari Mars, tetapi karbon kemungkinan besar berasal dari Bumi.

Meskipun temuan senyawa organik masih belum bisa dipastikan kebenarannya, Curiosity telah membuat penemuan hebat lainnya. Curiosity menemukan bukti terkuat adanya air di Mars, kemiripan batuan Mars dengan batuan di Bumi dan bahwa astronot sebenarnya bisa survive melawan radiasi di Mars.

Pihak NASA mengingatkan jika pun karbon ditemukan, tak berarti Mars bisa dinyatakan layak huni.

Sumber : Kompas.com

Sabtu, 31 Desember 2011

Badai Matahari akan Meningkat Sepanjang Tahun 2012 - 2013

Shear Blog - NASA atau Badan Antariksa Amerika Serikat mengeluarkan peringatan terkait meningkatnya aktivitas matahari sepanjang tahun 2012 dan 2013 dan mengakibatkan badai Matahari yang lebih sering di Bumi. Badai matahari (coronal mass ejection/CME) merupakan pelepasan energi besar radiasi dan gas pembakaran dari permukaan Matahari. Radiasi ini menyebar ke luar angkasa dan akan sampai ke atmosfer Bumi. 

Badai matahari yang cukup besar bahkan bisa mengakibatkan badai magnetik di Bumi hingga kerusakan listrik, sinyal telepon, dan kekacauan Global Positioning System (GPS). Sebenarnya aktivitas pelepasan plasma panas dari Matahari sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi. Tapi saat ini aktivitas matahari sedang memasuki siklus 11 tahun-an dan puncaknya akan terjadi pada tahun 2013 nanti. 

Solar Dynamics Observatory NASA dalam akun Twitternya menyebutkan bahwa akan ada 20-40 persen peluang terjadinya badai geomagnetik Jika Anda tinggal di dataran tinggi, coba perhatikan terjadinya aurora. NASA juga menegaskan sudah siap untuk mengatasi badai matahari ini. Namun, yang disayangkan adalah terganggunya kehidupan sosial masyarakat karena saat ini mereka sudah sangat tergantung dengan teknologi yang bakal bermasalah saat badai matahari menghantam.

Untuk mengatasinya, NASA mengaku sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan penyedia teknologi untuk mewaspadai dampak badai matahari.

Sumber : NGI

Rabu, 21 Desember 2011

Ditemukan !! Lubang Hitam Paling Kecil

Ilustrasi
Shear Blog - Beberapa waktu lalu astronom telah menemukan 2 lubang hitam (Black Hole) dengan ukuran raksasa, kini mereka juga menemukan lubang hitam namun dengan ukuran mungil, 3 kali lebih kecil dari matahari di sistem tata surya kita. Lubang hitam paling mungil itu ditemukan di sistem yang bernama IGR J17091-3624. Lubang hitam tersebut berjarak 16.000 - 65.000 tahun cahaya dengan 1 tahun cahaya sama dengan 10 triliun kilometer.

Astronom menggunakan Rossi X-ray Timing Explorer (RXTE) milik NASA untuk menemukan lubang hitam mungil ini. Wahana antariksa itu mendeteksi keberadaan lubang hitam dengan melihat "detak jantung"-nya. Detak jantung merujuk pada gambaran sinar X yang dipancarkan dari lubang hitam. IGR J17091-3624 memiliki lubang hitam dengan satu bintang terdekat. Massa gas dari bintang itu "mengalir" ke lubang hitam, terpanaskan hingga jutaan derajat Celsius dan akhirnya mengemisikan sinar X.

Pancaran sinar X ketika dicitrakan membentuk grafik serupa detak jantung manusia.Seperti diuraikan oleh Space, Jumat (16/12/2011), grafik itu merupakan tanda adanya lubang hitam. Sebelumnya, observasi di sistem GRS 1915+105 juga menghasilkan temuan serupa. Lubang hitam di sistem tersebut memiliki massa besar, mencapai 14 kali Matahari.

Astronom menjelaskan, sinar X yang dilihat di GRS 1915+105 sangat terang, bertahan hingga berjam-jam. Sebaliknya, sinar X yang dilihat di IGR J17091-3624 20 kali lebih kecil. Tomaso Belloni dari Observatorium Brera, Italia, yang terlibat penelitian ini mengatakan bahwa hal itu ]bisa berkaitan dengan kecilnya ukuran lubang hitam. Penemuan ini dipublikasikan di Astrophysical Journal Letters yang terbit 4 November 2011 lalu.

Sumber : kompas.com

Rabu, 07 Desember 2011

Dua Buah Lubang Hitam (Black Hole) Superbesar Ditemukan !!

Ilustrasi
Shear Blog - Lubang hitam adalah obyek yang punya daya tarik kuat sehingga cahaya pun tak bisa lepas darinya. Hampir setiap galaksi memiliki lubang hitam. Baru-baru ini dua buah lubang hitam (Black Hole) supermasif telah ditemukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh astronom Universitas California, Berkeley. Ukurannya telah mengalahkan ukuran lubang hitam terbesar yang ada saat ini.  

Satu lubang hitam berada di galaksi NGC 3842, di kluster Leo, berjarak 320 juta tahun cahaya dari Bumi. Ukuran lubang hitam itu sekitar 9,7 juta kali massa Matahari. Lubang hitam kedua ditemukan berada di galaksi NGC 4889, di kluster Coma. Berjarak 335 juta tahun cahaya dari Bumi, ukuran lubang hitam ini sekitar 10 juta kali massa Matahari.

Begitu besarnya, dua lubang hitam tersebut mengalahkan lubang hitam di galaksi elips Messier 87 yang memiliki ukuran 6,3 juta kali massa Matahari. Sementara, menurut Nicholas McDonnel, pemimpin peneliti, dua lubang hitam terbesar yang ditemukan berukuran 2.500 kali lubang hitam di galaksi Bimasakti. 

Penemuan lubang hitam ini memberikan pertanyaan baru bagi para ilmuwan, bagaimana lubang hitam tumbuh. Ilmuwan mengatakan bahwa pertumbuhan lubang hitam mungkin dipengaruhi oleh ukuran galaksi. Tapi, lubang hitam juga bisa tumbuh besar dengan menghisap gas. Hal ini sama seperti menyatakan apakah anak tumbuh tinggi karena orangtua yang tinggi atau karena makan banyak bayam.

Peneliti juga menyatakan bahwa penemuan lubang hitam yang ukurannya lebih besar lagi masih sangat dimungkinkan.

Sumber : kompas.com

Sabtu, 03 Desember 2011

4 Galaksi Berwarna Ekstrim Merah

Shear Blog - Empat galaksi "merona" dengan jarak 13 milliar tahun cahaya dari bumi telah ditemukan oleh astronom. Disebut "merona" karena galaksi ini berwarna merah. Warna ekstrim merah milik galaksi ini membuat teleskop Hubble tidak bisa mendeteksinya. Astronom mesti menggunakan Teleskop Spitzer yang sensitif dengan cahaya inframerah.

Menurut astronom ada beberapa sebab yang membuat galaksi ini berwarna merah, pertama, mereka mungkin punya banyak debu. Kedua, mereka memiliki banyak bintang tua. Dan ketiga, mereka mungkin sangat jauh. Alasan pastinya belum diketahui. Keempat galaksi tersebut terletak berdekatan dalam pengamatan Spitzer. Menurut prediksi astronom, karena berjarak begitu jauh, galaksi yang terlihat adalah pada masa awal setelah Big Bang.

Tahap selanjutnya dari penelitian ini, ilmuwan akan mengukur lebih akurat tingkat merah dari galaksi ini. Penelitian itu membutuhkan teleskop yang lebih kuat, seperti Atacama Large Millimeter Array di Chile. Ilmuwan juga akan mencari galaksi lain yang satu "spesies" dengan keempat galaksi itu. Ada bukti tentang keberadaan yang lain di zona langit yang lain. Astronom akan menganalisa dengan Spitzer dan Hubble

Sumber : kompas.com

Senin, 28 November 2011

Titan Lebih Mungkin Untuk Ditinggali Manusia Daripada Planet Mars

Titan (depan) dan Tethys (belakang)
Shear Blog - Planet Mars adalah planet yang selama ini paling banyak diperbincangkan sebagai planet yang layak huni selain di Bumi. Padahal ada tempat lain di luar angkasa yang lebih layak huni dibandingkan planet Mars. Dr Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University dalam publikasinya di jurnal Astrobiologi menyatakan, dalam pemeringkatan bahwa Titan, bulan Planet Saturnus, adalah benda langit paling layak huni, mengalahkan planet merah, Mars.

Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet, Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1. Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan bulan Jupiter (0,47). Dua eksoplanet yang dinyatakan layak huni adalah Gliese 581 g (0,49) dan Gliese 581d (0,43). Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi layak huni sebab terbukti memiliki air dan energi.

Semenjak Teleskop luar angkasa Kepler berhasil menemukan lebih dari 1000 kandidat planet yang mirip dengan Bumi, penelitian planet layak huni semakin maju dengan pesat. Teleskop di masa depan diperkirakan bisa mendeteksi biomarker, seperti cahaya atau pigmen klorofil yang ada pada tumbuhan.

Selain menyusun Selain menyusun pemeringkatan planet layak huni, Schulze-Makuch juga menyusun Indeks Kemiripan Bumi untuk mengetahui planet dan bulan yang kondisinya paling mirip dengan Bumi. Hasilnya juga menyatakan bahwa Mars bukanlah yang pertama.

Gliese 581g adalah planet yang paling mirip Bumi, dengan skor 0,89 sementara Gliese 581d punya skor 0,74. Mars sendiri punya skor 0,7 dan Merkurius 0,6. Indeks Kemiripan Bumi dikembangkan dengan melihat ukuran planet, densitas, dan jarak dari bintang induk. Gliese 581g dan Gliuese 581d adalah planet yang mengorbit bintang katai merah Gliese 581. Meski layak huni dan mirip Bumi, mencapai kedua planet itu terbilang sulit karena jaraknya yang sangat jauh. Gliese 581g berjarak 198 miliar kilometer. 

Sumber : Kompas.com

Sabtu, 19 November 2011

7 Misteri Planet Mars (Apakah ada Kehidupan di Mars ?? )

Kawah Rabe (berwarna biru)
Shear Blog - Berikut ini adalah 7 misteri yang menyelimuti planet Mars (dikutip langsung dari kompas.com) :

1. Mengapa Mars memiliki dua wajah berbeda?
Para peneliti sejak lama bertanya-tanya mengapa dua sisi Planet Mars memiliki perbedaan yang mencolok? Belahan utara Mars bisa dikatakan datar dan berupa dataran rendah, bahkan termasuk salah satu permukaan paling datar, paling halus di tata surya. Kondisi itu barangkali terbentuk oleh air yang diduga pernah mengalir di permukaan planet merah.

Sementara itu, kebalikannya, belahan selatan Mars memiliki permukaan yang terjal, berkawah dan sekitar 4 km hingga 8 km lebih tinggi dibanding belahan utara. Bukti-bukti terkini memunculkan perkiraan bahwa perbedaan antara sisi utara dan selatan Mars itu diakibatkan oleh batu raksasa dari ruang angkasa yang menghantam Mars pada masa lalu.

2. Dari mana asal gas methana di Mars?
Methana --molekul organik paling sederhana-- pertama kali ditemukan di atmosfer Mars oleh wahana Mars Express milik Badan Antariksa Eropa pada tahun 2003. Di Bumi, sebagian besar gas methana di atmosfer dihasilkan oleh makhluk hidup. Gas methana diduga sudah ada di atmosfer Mars sejak 300 tahun lalu, artinya apapun sumbernya, keberadaan gas tersebut belum lama.

Meski begitu, gas methana bisa juga muncul di luar kehidupan, seperti misalnya dari aktivitas vulkanik. Wahana ExoMars milik ESA yang akan diluncurkan tahun 2016 bakal meneliti komposisi kimia atmosfer Mars dan mempelajari keberadaan methana di sana.

3. Di manakah lautan Mars?
Banyak misi ke Mars menemukan bukti-bukti bahwa planet tersebut pernah memiliki kondisi cukup hangat sehingga air tidak membeku dan bisa mengalir di permukaannya. Bukti-bukti itu antara lain berupa wilayah yang seperti bekas lautan, jaringan-jaringan lembah, delta-delta sungai dan sisa-sisa mineral yang seolah terbentuk oleh air.

Meski begitu, pemodelan iklim Mars belum bisa menjelaskan bagaimana temperatur hangat itu bisa terjadi, mengingat cahaya Matahari jauh lebih lemah dahulu. Ada dugaan, bentuk-bentuk di atas terbentuk bukan oleh air, melainkan oleh angin atau mekanisme lain. Namun masih tetap ada bukti bahwa Mars pernah cukup hangat untuk mendukung keberadaan air dalam bentuk cair, setidaknya di satu tempat di permukaannya.

4. Apakah ada air mengalir di permukaan Mars saat ini?
Meski sebagian besar bukti menunjukkan bahwa air pernah mengalir di permukaan Mars, tapi masih menjadi teka-teki apakah masih ada air yang mengalir di permukaan planet tersebut saat ini. Tekanan atmosfer Mars terlalu rendah, sekitar 1/100 tekanan di Bumi, sehingga air sulit berada di permukaannya. Namun ada jalur gelap dan sempit di lereng-lereng Mars yang memunculkan dugaan ada air yang mengalir tiap musim semi.

5. Apakah ada kehidupan di Mars?
Wahana pertama yang berhasil mendarat di Mars, Viking 1 milik NASA, memunculkan teka-teki yang masih misterius saat ini: Adakah bukti kehidupan di Mars? Viking adalah wahana yang secara khusus ditugaskan untuk mencari kehidupan di Mars, dan apa yang ditemukan masih menjadi perdebatan hingga hari ini. Wahana itu teleh menemukan adanya molekul organik seperti methyl chloride dan dichloromethane. Walau demikian, senyawa-senyawa itu bisa jadi merupakan kontaminasi dari Bumi yang terbawa saat wahana bersiap meluncur di Bumi.

Permukaan Mars sendiri sangat tidak bersahabat bagi makhluk hidup dalam hal suhu yang sangat rendah, radiasi, kondisi kering, dan faktor-faktor lain. Walau begitu, ada makhluk-makhluk hidup yang bisa bertahan di lingkungan ekstrem di Bumi, seperti di Lembah Kering Antartika yang dingin dan kering, atau wilayah amat kering di Gurun Atacama di Chile.

Secara teori, selalu ada kehidupan dimana ada air dalam bentuk cair di Bumi. Dan kemungkinan pernah adanya lautan di Mars memunculkan pertanyaan apakah pernah ada kehidupan di sana, dan bila ada, apakah sampai saat ini makhluk-makhluk hidup itu tetap eksis? Jawaban atas pertanyaan itu mungkin membantu memberikan sedikit pencerahan terhadap pertanyaan seberapa umumkah kehidupan di jagad raya.

6. Apakah kehidupan di Bumi berawal dari Mars?
Meteorit yang ditemukan di Antartika dan berasal dari Mars -- terlempar dari planet merah akibat tabrakan kosmis -- memiliki struktur serupa dengan batuan yang dihasilkan mikroba di Bumi. Meski penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa struktur itu terbentuk karena proses kimia dan bukan biologi, perdebatan mengenai Mars sebagai asal-usul kehidupan di Bumi masih berlanjut. Beberapa orang masih memegang teori bahwa kehidupan di Bumi berasal dari Mars, dan terbawa ke Bumi bersama meteorit.

7. Bisakah manusia hidup di Mars?
Untuk menjawab apakah kehidupan pernah ada atau masih ada di Mars, barangkali manusia perlu pergi ke sana dan mencarinya sendiri. Pada tahun 1969, NASA pernah merencanakan misi berawak ke Mars pada tahun 1981 dan membangun stasiun permanen di sana tahun 1988. Namun perjalanan antar planet itu ternyata menghadapi tantangan ilmiah dan teknologi yang tidak kecil.

Para ilmuwan harus mengatasi berbagai masalah perjalanan antar planet, seperti makanan, air, oksigen, efek gravitasi mikro, kemungkinan radiasi yang berbahaya, dan kenyataan bahwa astronot yang pergi ke sana akan berada jutaan kilometer dari Bumi sehingga tidak mudah untuk mendapat bantuan bila terjadi sesuatu. Selain itu, mendarat, bekerja, dan hidup di planet lain lalu kembali ke Bumi bukan perkara mudah.

Meski begitu, banyak peneliti yang ingin melakukan misi itu. Tahun ini, enam sukarelawan hidup terisolasi seolah sedang berada dalam wahana ruang angkasa selama 520 hari dalam proyek yang disebut Mars500. Simulasi penerbangan ruang angkasa terlama ini bertujuan untuk meniru perjalanan ke Mars.

Banyak sukarelawan bahkan bersedia diterbangkan ke Mars meski kemungkinan tidak bisa kembali. Berbagai rencana juga dibuat, misalnya dengan mengirimkan mikroba pemakan batu terlebih dahulu, sebelum manusia didatangkan. Teka-teki mengenai apakah manusia akan pernah menjejakkan kaki ke Mars memang masih tergantung ada alasan mengapa kita harus mencoba menjelajahi planet merah itu. 


Astronom yakin Ada Laut di Europa (Satelit Jupiter)

Europa
Shear Blog - Europa adalah salah satu satelit planet Jupiter yang letaknya paling dekat dengan Jupiter. Satelit ini juga menyandang predikat sebagai satelit terbesar Jupiter bersama dengan satelit lain, seperti Io, Ganymede dan Collisto. Data temuan wahana antariksa Galileo yang melakukan eksplorasi tahun 1995 - 2003, dan meneliti permukaan satelit Jupiter telah membuat para astronom yakin bahwa di Europa ada laut.

Berdasarkan citra yang diambil, astronom mendapatkan struktur aneh disebut "chaos terrain". Untuk menjelaskan terbentuknya topografi itu, astronom mempelajari bagaimana topografi yang sama terbentuk di Bumi. Astronom menemukan, topografi itu mungkin dibentuk oleh panas dari dalam Europa yang melelehkan es di dekat permukaannya, menyebabkan bagian atasnya retak atau runtuh. Analisis membuktikan bahwa lapisan es di permukaan Europa adalah setebal 10 km. Sementara, di bawahnya terdapat danau air asin yang kedalamannya sekitar 3 km. 

Tentu saja temuan ini membuat gembira para astronom, karena kondisi Europa telah memenuhi dua syarat penting untuk mendukung kehidupan, yakni air dan energi. Seperti diketahui, evolusi awal Bumi menunjukkan perlunya energi untuk mendukung kehidupan, salah satunya berupa petir. Selama 3,8 miliar tahun sesudahnya, Bumi juga masih tergantung pada energi Matahari.

Studi yang juga dipublikasikan di jurnal Nature ini semakin menambah wawasan tentang satelit planet-planet gas raksasa. Satelit Saturnus, Enceladus, diduga juga memiliki lautan. Meski memiliki air dan energi, Europa tak langsung bisa dihuni. Ada syarat kehidupan lain, seperti zat organik, yang belum tentu ada. Astronom akan menjadikannya target eksplorasi selanjutnya.

Sumber : kompas.com

Selasa, 01 November 2011

8 November 2011, Asteroid 2005 YU55 akan Dekati Bumi

Shear Blog - Sebuah asteroid bernama 2005 YU55 akan melayang mendekati bumi dengan ketinggian 320.000 km. Asteroid sebesar pesawat terbang ini akan terlihat mendekati Bumi pada tanggal 8 November 2011. Peristiwa lewatnya asteroid dengan ukuran hampir sama di ketinggian tersebut cukup langka. Berdasarkan catatan NASA, peristiwa serupa terakhir terjadi pada tahun 1976. Kunjungan asteroid 2005 YU55 kali ini merupakan yang pertama kalinya sejak kunjungan terakhirnya 200 tahun lalu.

Saat mendekati Bumi, asteroid ini hanya bisa dilihat menggunakan teleskop dengan diameter minimal 15cm. Asteroid 2005 YU55 pertama kali dicitrakan dengan bantuan Teleskop Radar Arecibo di Puerto Rico pada 19 April 2010. Meski kali ini melayang cukup dekat, asteroid tidak akan menghantam Bumi.

Dr Emily Baldwin, editor majalah Astronomy Now mengungkapkan, "Studi tentang asteroid tidak hanya penting untuk mengetahui potensi tumbukan dengan Bumi, tetapi juga untuk memahami sejarah Tata Surya kita."

Kita tunggu kedatangan tamu angkasa kita kali ini, dan mudah-mudahan kita punya kesempatan untuk mengamatinya.

Sumber : Kompas.com

Senin, 31 Oktober 2011

Awan Misterius Muncul di Planet Uranus

Shear Blog - Seorang ahli keplanetan Larry Sromovsky menemukan bintik misterius di planet Uranus, bercak serupa awan itu diduga merupakan erupsi es metana yang membumbung ke atmosfer Uranus. Sromovsky menemukan fenomena misterius ini menggunakan teleskop Gemini 8,1 meter.

Heidi B Hammel, pakar ilmu keplanetan lain yang juga terlibat penelitian, menggunakan Facebook untuk mengumumkan hasil penemuannya. Ia mengajak orang, termasuk astronom amatir, untuk mengobservasi bintik itu lebih lanjut. Jika informasi telah cukup, maka pengamatan dengan teleksop Hubble akan dilakukan.

Menurut Hammel, fenomena awan aneh ini sepertinya adalah bersifat musiman di planet Uranus. Uranus berputar miring pada sisinya sehingga memberi perubahan cahaya matahari ekstrem ketika musim berubah. Perubahan yang terjadi bahkan lebih dramatis daripada yang ada di planet lain.

Ektremnya perubahan musim terbukti dari lamanya tiap-tiap area Uranus mendapat sinar Matahari. Selama 84 tahun revolusi (berdasarkan waktu Bumi), belahan utara Uranus menerima cahaya secara terus-menerus, sementara selama 42 tahun juga, belahan selatan Uranus gelap total.

Tidak tahu apakah para astronom amatir bisa memecahkan misteri ini karena keterbatasan peralatan. Namun yang jelas, Uranus kini juga bisa menjadi salah satu obyek yang bisa diteliti.

Sumber : Kompas.com

Lengan Baru Galaksi Bimasakti Ditemukan

Shear Blog - Menurut penelitian para astronom selama ini, bentuk galaksi Bimasakti (galaksi tempat kita tinggal) mirip dengan spiral atau mirip seperti obat nyamuk bakar. Galaksi Bimasakti mempunyai pusat galaksi dan beberapa lengan dengan struktur memanjang keluar dari pusat galaksi. Observasi pada 2008 oleh Robert Benjamin dari University of Wisconsin menyatakan Bimasakti memiliki dua lengan utama, lengan Perseus dan lengan Scutum-Centaurus. Lengan-lengan lain disebut lengan minor, di antaranya lengan Carina-Sagitarius dan lengan Orion-Cygnus. 

Saat ini Thomas Dame dan Patrick Tadeus dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics berhasil mengidentifikasi lengan baru Bimasakti yang tadinya tersembunyi. Lengan itu berada di ujung lengan Scutum-Centaurus, berjarak lebih kurang 50.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Mereka mengidentifikasi lengan baru itu dengan teleskop di Massachusets, Amerika Serikat.

Matahari, Bumi, dan Tata Surya terletak di dekat lengan utama Perseus, atau lebih tepatnya di dekat Orion Cygnus. Jarak Matahari dari pusat galaksi sekitar 25.000 tahun cahaya. Sebagaimana diketahui, ada kehidupan di Bumi yang menjadi salah satu komponen tata surya. Jika di lengan Orion Cygnus terdapat kehidupan, mungkinkah juga ada kehidupan di lengan baru Bimasakti yang ditemukan?

Virginia Trimble dari University of California yang mempelajari evolusi galaksi sayangnya menyatakan bahwa lengan baru tersebut bukan tempat yang baik untuk hidup. Seperti dikutip Dailymail, Jumat (28/10/2011), Trimble mengatakan, jika memang ada tempat yang mendukung kehidupan, mungkin tempat itu ada di dekat pusat galaksi. Menurut dia, di sanalah planet kaya logam seperti Bumi terdapat sehingga relatif bisa mendukung kehidupan. 

Sumber : Kompas.com

Kamis, 29 September 2011

Awas, Ada Satelit yang Mau Jatuh Ke Bumi Lagi !! Lagi Musim Hujan Satelit Ternyata -_-

Shear Blog - Beberapa waktu lalu (bulan September) satelit NASA Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) seberat 6 ton telah jatuh ke Bumi, dimana tepatnya masih belum diketahui secara pasti, karena satelit telah pecah menjadi banyak serpihan dan sangat sulit melacak semuanya.

Awal November ini satelit yang sudah "pensiun" alias tidak berfungsi kembali akan jatuh ke Bumi, satelit ini bernama Roentgen Satellite atau ROSAT German X Ray Space Observatory. Demikian keterangan German Aerospace Center seperti dipublikasikan Space.com, Kamis (29/9/2011). Orbit satelit berbobot 2,4 ton tersebut antara 53 derajat lintang utara dan 53 derajat lintang selatan. Dengan demikian, lokasi potensial jatuhnya satelit pada rentang Kanada hingga Amerika Selatan meski belum bisa ditentukan dengan pasti.

Satelit ROSAT
Diperkirakan akan ada 30 kepingan raksasa satelit yang akan jatuh ke Bumi. Dari total bobot 2,4 ton, sebanyak 1,6 ton akan tahan dari gesekan atmosfer yang biasanya akan membakar komponen satelit.  ROSAT adalah satelit yang diluncurkan pada tahun 1998 dan merupakan pelacak bintang yang gagal. Kameranya secara langsung menghadap Matahari sehingga mengalami kerusakan. ROSAT secara resmi dinonfungsikan pada tahun 1999.

Jatuhnya ROSAT menambah daftar sampah antariksa yang masuk ke Bumi. Minggu lalu, satelit UARS milik NASA jatuh di pantai wilayah Pasifik. Diperkirakan akan ada banyak lagi sampah antariksa yang jatuh ke Bumi akibat belum adanya manajemen pengelolaan sampah antariksa ini. 

Sumber : KOMPAS.com

Senin, 12 September 2011

Ada Satelit NASA Mau Jatuh ke Bumi, Warga Diharap Waspada

Shear Blog - NASA memberikan peringatan bahwa The Upper Atmosphere Research Satellite (UARS), satelit yang sudah mati, akan jatuh ke Bumi dalam enam minggu ke depan ini. Kendati begitu, NASA belum bisa memprediksi tanggal yang tepat mengenai jatuhnya satelit ini.

UARS adalah satelit yang diluncurkan pada tanggal 15 September 1991 oleh pesawat luar angkasa Discovery dan diperkirakan masuk Bumi pada akhir bulan ini atau awal Oktober mendatang. Satelit ini sudah tidak berfungsi sejak 14 Desember 2005 dan pada pada dasarnya didesain untuk misi selama 3 tahun.

UARS mengandung senyawa kimia yang diperoleh dari lapisan ozon, angin, dan suhu di stratosfer, serta masukan energi dari Matahari.


The Upper Atmosphere Research Satellite (UARS)
Satelit ini memiliki panjang 11 meter dan diameter mencapai 4,5 meter. Seperti dikutip dari TG Daily, meski satelit ini akan menjadi potongan-potongan terpisah saat masuk ke Bumi, tapi tidak semua bagian terbakar di atmosfer.

Risiko menyangkut keselamatan publik dan beberapa bangunan yang mungkin terkena reruntuhan dari UARS sangat tinggi. NASA mengimbau agar pihak-pihak yang menemukan potongan satelit dari ruang angkasa ini menghindar. Semua pihak pun diminta proaktif melaporkan kepada yang berwajib jika menemukan potongannya.

Data terbaru menunjukkan, UARS mengorbit 155 sampai 280 kilometer dengan kemiringan 57 derajat ke arah khatulistiwa. NASA memperkirakan bangkai satelit ini akan mendarat pada suatu tempat antara 57 derajat khatulistiwa ke arah selatan atau 57 derajat ke arah utara.

Bila benda ini tidak terbakar di atmosfer, maka akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran yang sangat parah terhadap beberapa bangunan di Bumi.
 
Sumber : National Geographic Indonesia

Rabu, 07 September 2011

Siapa Bilang Pendaratan Manusia di Bulan Cuma HOAX ??

Shear Blog - Para penyebar teori konspirasi sering memperdebatkan benar tidaknya manusia sudah pernah menginjakkan kaki di Bulan. Mereka mengatakan bahwa pendaratan manusia di Bulan hanyalah hoax belaka. Cuma akal-akalan Amerika saja. Foto-foto pendaratan itu juga dianggap palsu. Namun, citra terbaru yang ditangkap wahana antariksa Lunar Reconaissance Orbiter baru-baru ini menjadi salah satu pendukung untuk menolak dugaan hoax tersebut.

Lunar Reconaissance Orbiter menyuguhkan 3 gambar wilayah yang pernah menjadi lokasi pendaratan  misi Apollo di Bulan. Di dalam gambar ini juga tampak jalur yang dilalui astronot ketika menjelajah Bulan. Salah satunya adalah jejak pendaratan Apollo 17. Rute yang ditinggalkan astronot Eugene Cerman dan Harrison Schmitt terlihat jelas. Ada jejak kaki yang bisa dilihat serta dibedakan dengan jelas dari jejak rute. Karena mengenal kendaraan yang dipakai dalam misi ke Bulan, astronot Mark Robinson mengatakan bisa terlihat dengan jelas bahwa roda yang digunakan sedikit berbelok ke kiri. 

Selain jejak misi Apollo 17, citra yang dirilis kali ini juga menyuguhkan jejak misi Apollo 12 dan Apollo 14. Bisa dilihat jejak yang ditinggalkan oleh astronot Edgar Mitchell, Alan Shepard, Pete Conrad, dan Alan Bean. Citra juga menunjukkan objek dan sisa-sisa misi yang tertinggal di Bulan, seperti selimut suhu dan backpack yang dipakai oleh astronot dalam moonwalk.

Lokasi bendera Amerika yang dikibarkan di Bulan juga terlihat. Akan tetapi sangat sulit untuk melihat dengan jelas benderanya sendiri. Suhu ekstrim dan radiasi di Bulan pasti sudah merusak bendera tersebut.
Citra yang dirilis ini diambil saat Lunar Reconaissance Orbiter mengorbit Bulan dengan ketinggian rendah, sekitar 22 km dari permukaan Bulan. Biasanya, wahana antariksa ini mengorbit pada ketinggian 31 km. Saat ini, Lunar Reconaissance Orbiter memasuki orbit sirkuler. Pertengahan Desember nanti, wahana antariksa ini akan memasuki orbit eliptikal dengan ketinggian terendah 30 km di kutub selatan dan tertinggi 124 km di kutub utara Bulan. 

Misi Lunar Reconaissance Orbiter berbiaya 504 juta dollar. Menjalankan misi sejak 2009, wahana antariksa ini berhasil mengirimkan citra detail jejak misi Apollo pada tahun yang sama. Ke depan, kerjanya akan dibantu oleh GRAIL A dan B yang akan diluncurkan Kamis (8/9/2011) nanti. 

Sumber : Kompas.com

Jumat, 26 Agustus 2011

Astronom Berhasil Menemukan Planet Berlian !!!

Shear Blog - Astronom berhasil menemukan planet berlian yang terbentuk dari bintang mati. Planet tersebut mengorbit pulsar bernama PSR J1719-1438. Pulsar adalah bintang kecil yang berputar cepat dan mengemisikan gelombang radio. Penemuan planet ini dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (25/8/2011).

Penemuan ini merupakan yang ketiga sejak 1800 di mana didapatkan planet yang mengorbit sebuah pulsar. Hal yang istimewa dari planet ini ialah ukurannya. Maksimal, planet berukuran 40 persen Jupiter. Jika lebih besar, planet pasti sudah masuk di medan gravitasi bintangnya dan musnah sebelum ditemukan. Namun, meski berukuran kecil, planet ini memiliki massa lebih besar dari Jupiter. Hal ini memberi petunjuk akan asal-usul planet yang dipercaya mayoritas memiliki kandungan oksigen dan karbon.

Planet ini ditemukan setelah pulsarnya ditemukan lebih dulu. Pulsar ditemukan pada tahun 2009 oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Matthew Bailes dari Swinburne University of Technology di Melbourne dengan teleskop Parkes di New South Wales. Sebulan kemudian, tim ilmuwan itu melihat bahwa ada "gangguan" ketika mengamati pulsar, menandakan adanya planet yang mengorbit pulsar tersebut.




Ilustrasi
Keberadaan planet itu kemudian dikonfirmasi oleh teleskop yang lebih besar di Inggris dan Amerika Serikat. Planet diketahui mengorbit pulsar dengan periode 2 jam 10 menit saja. Jarak antara planet dan pulsar adalah 600.000 km. Diameter planet lebih kurang hanya 60.000 km. Para astronom percaya, planet adalah inti dari bintang besar yang telah mati.

Bagaimana bintang kemudian bisa menjadi planet berlian? Prosesnya sedikit rumit. Seperti yang diuraikan di Space, Kamis (25/8/2011), pulsar dan planet mulanya adalah 2 bintang yang saling mengorbit di sebuah sistem bintang ganda. Ketika salah satu bintang menua dan meledak, ia menjadi bintang merah raksasa dan kemudian berubah menjadi bintang katai putih.

Planet lain mulai mengisap materi dari planet itu. Planet lain itulah yang menjelma menjadi pulsar PSR J1719-1438. Semakin banyak materi yang diisap, pulsar tersebut berputar semakin cepat. Astronom mengatakan, pulsar bisa berputar 10.000 kali dalam 1 menit sehingga disebut pulsar milidetik. Massa pulsar milidetik alias si PSR J1719-1438 adalah 1,4 kali Matahari dan berdiameter 20 km. Biasanya, bintang katai putih tetap akan mengorbit pulsar, tetapi bisa juga bintang ini "dimakan" olehnya.

Dalam kasus bintang berlian, inti dari katai putih gagal "bersatu" dengan pulsar. "Ketika jarak antara pulsar dan katai putih sangat dekat, katai putih kehilangan banyak materialnya dan terlempar keluar di zona aman dari radius bintang," kata Bailes. Akhirnya, terciptalah planet yang sebenarnya adalah inti dari bintang.

Dari bintang menjadi planet diketahui bahwa jumlah materi yang hilang adalah 99,9 persen. Lalu, apakah planet berlian ini cemerlang layaknya berlian? "Ini sangat spekulatif. Tetapi, jika Anda menyinarinya, saya rasa tak ada alasan bagi planet ini untuk tidak cemerlang seperti berlian," kata Travis Metcalfe dari National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colorado. Kabar buruknya, sangat sulit untuk menjangkau planet berlian ini karena berjarak 4.000 tahun cahaya di konstelasi Serpens. 

Sumber : KOMPAS.com